***WELCOME TO VISIT IPMAMI'S WEBSITE BLOG (IKATAN PELAJAR MAHASISWA KABUPATEN MIMIKA KORDINATOR WILAYAH SURABAYA) AMOLE***

FENOMENA LUMPUR PANAS PORONG – SIDOARJO (LAPINDO BRANTAS)

Written By IPMAMI KORWIL SURABAYA on Jumat, 20 Januari 2012 | 21.41

FENOMENA LUMPUR PANAS
PORONG – SIDOARJO
(LAPINDO BRANTAS)
Surabaya – Porong (OBSERVASI)

Tim Lifeskills bersama kami Mahasiswa PMMT mengadakan observasi di Lumpur Panas, Porong – Sidoarjo. Observasi ini dilakukan oleh para dosen lifeskills kepada kami para Mahasiswa untuk mengetahui kejadian-kejadian yang terjadi di Nusantara (Sidoarjo). Untuk menambah pengetahuan, mengubah cara berpikir, cara pandang kami mahasiswa PMMT. Perjalanan kami menuju tempat tujuan, kami mengikuti komuter dari Stasiun Kereta Api Gubeng – Surabaya, pada tanggal 27 Maret 2010 pukul, 09:05 WIB. Saya merasa senang dan gembira dalam hati saya pada saat mengikuti komuter, sebab sebelumnya saya belum pernah mengikuti Kerata Api di Papua. Kami sampai/tiba di porong sekitar pukul: 10.45 WIB, dan kami langsung menuju area lumpur panas. Pertama saya melihat fenomena lumpur panas atau lapindo saya terharu dengan fenomena tersebut. Fenomena lumpur panas terjadi pada tanggal, 29 Mei 2006. Akibat terjadi lumpur panas awal mulanya dari pengeboran minyak oleh PT LAPINDO BRANTAS, dalam proses pengeboran tersebut terjadi kesalahan. Ketinggihan lumpur panas berkisar: 17-18 m dari tanah, suhunya berkisar: 80-900C ini suhu tertingginya, dan ketinggihan tanggul: 16-18 m, jarak yang dapat ditempuh atau dijangkau manusia ± 300 m, dan lumpur panas tersebut mengandung Gas H2S Hidrokarbon, Metal, dan Blerang. November 2007 terjadi ledakan pipa pertamina, kejadian tersebut mengakibatkan 13 orang meninggal dunia. Tempat kejadian tersebut memiliki 3 kecamatan seperti: 1 Porong = 5 desa, 2 Tabulangin = 2 desa, 3 Jabon = 2 desa. Semuanya berlalu begitu saja, dan semuanya sekarang menjadi lautan lumpur panas. Para warga yang berdomisili di wilaya tersebut ± 2000 jiwa kepala keluarga (JKK). Warga yang menjadi penggungsi mereka diberikan uang dan tempat tinggal sementara dari PT LAPINDO BRANTAS dan Pemerintahan Pusat yang diolah oleh Pemerintahan setempat (Sidoarjo). Mereka mandapatkan uang untuk biaya hidup mereka sebesar: Rp 2.500,000,- Pertahun, dan dalam 1(satu) hari Perkepala keluarga diberi uang makan sebesar: Rp 10.000,000,- Perbulan: Rp 300.000,-. Sehingga warga penggungsihan dapat bertahan hidup. Inilah hasil Observasi saya di Porong bersama Teman-teman dan Tim dosen lifeskills. Setelah pulang dari lapangan saya merasa terluka artinya turut berduka dengan fenomena tersebut, karna saya dapat melihat secara langsung tempat kejadiannya. Saya menyukai proses pembelajaraan di lapangan seperti observasi yang telah dilakukan di Porong.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar